Tai Tzu Ying Bertekad Memenangkan Olimpiade Tokyo 2020

tai tzu ying

Flygoal.com – Pebulutangkis putri Taiwan, Tai Tzu Ying menyebut Olimpiade Tokyo bakal menjadi ajang paling menantang. Ia pun bertekad untuk dapat memenangkannya.

Tai Tzu Ying tercatat dua kali tampil di Olimpiade. Pertama kali di London 2012, kemudian Rio de Janeiro 2016. Dari keduanya, ratu bulutangkis dunia itu tidak meraih satu pun medali.

Kini, ia kembali mendapatkan kesempatan ketiganya tampil di pesta olahraga terakbar tersebut. Ia berharap bisa pecah telur. “Saya merasa Olimpiade adalah ajang yang saktral dan penting. Itu sebabnya saya sangat berharap bisa meraih medali,” kata Tai Tzu Ying dalam lama BWF.

“Saat saya bermain di Olimpiade London saya masih sangat muda. Jadi saya tidak terlalu banyak berpikir dan hanya mengeluarkan kemampuan saja. Pada Olimpiade berikutnya di Rio, Saya banyak memberi tekanan pada sendiri. Ditambah ada cedera sehingga membuat penampilan saya menjadi tidak ideal,” dia mengungkapkan.

“Untuk Olimpiade tahun ini, saya merasa telah mencapai level yang memuaskan dalam performa pertandingan.”

Tai Tzu Ying percaya diri karena tahun ini berhasil mencapai tiga kali final Asian Leg di Thailand, Januari 2021. Salah satunya bahkan menjadi juara di BWF World Tour Finals 2020.

Namun, ia tidak menepis kelemahannya yang belum mampu mengontrol pertandingan dan membuatnya kerap kalah dengan pemain peringkat di bawahnya menjadi catatan tersendiri.

“Tidak ada turnamen yang membuat saya puas. Saya memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan selama pertandingan,” tuturnya.

“Saya pikir ini ada kaitannya dengan gaya permainan. Saya memiliki ekspektasi tinggi terhadap permainan saya dan berharap setiap tembakan bisa masuk tapi malah menyebabkan banyak kesalahan.”

“Tapi jika saya mengubah gaya bermain yang lebih stabil dan aman, saya mungkin juga bisa kehilangan cara untuk memenangkan poin,” tambahnya.

Kehati-hatian Tzu Ying dalam mengontrol permainannya boleh jadi akan berguna pada fase grup di Olimpiade mulai 23 Juli hingga 8 Agustus mendatang.

Ia tergabung di Grup P bersama Qi Xuefei (Prancis), Thuy Linh Nyuyen (Vietnam), dan Sabrina Jaquet (Swiss), notabene ialah pebulutangkis yang peringkatnya jauh di bawahnya.

“ini adalah kelemahan terbesar saya. Olimpiade ini akan menjadi tantangan besar bagi saya karena tidak bisa mengontrol level permainan untuk menjadi yang terbaik dan memenangkan pertandingan,” ujarnya.

Terlepas dari itu, pemain 27 tahun itu menegaskan bahwa Olimpiade tahun ini menjadi ajang terbesar terakhirnya. “Olimpiade ini akan menjadi turnamen besar terakhir sebelum saya gantung raket. Saya belum memutuskan apakah akan terus bermain setelah bermain Olimpiade. Saya belum ambil keputusan bulat,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *