Diklub-klub Sebelumnya Menjanjikan, Kenapa Sekarang Mereka Meredup?

Flygoal.com – Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago adalah pendatang baru di Liga Inggris. Di klub-klub sebelumnya menjanjikan, tapi kenapa sekarang malah meredup.

Donny van de Beek dibeli Manchester United dari Ajax Amsterdam seharga 39 juta euro atau setara Rp 661 miliar. Thiago Alcantara dibeli Liverpool dari Bayern Munich seharga 22 juta euro atau setara Rp 373 miliar.

Kai Havertz lebih mahal harganya, dibeli Chelsea dari Bayer Leverkusen seharga 80 euro atau setara Rp 1,3 triliun. Mereka bertiga bersinar terang bersama klubnya masing-masing di musim lalu.

Donny van de Beek menjelma jadi jendral lapangan di lini tengah yang menjanjikan, Kai Harvertz masuk jajaran pemain muda terbaik di Bundesliga dan Thiago mencicipi titel juara Liga Champions.

Sayangnya musim ini kala ketiganya bermain di Liga Inggris, mereka masih meredup. Belum ada penampilan ciamik dan gol-gol atau assist yang dilahirkan, malah kebanyakan hanya menghiasi bangku cadangan.

Sejatinya, ketiga pemian ini dinilai bertalenta. Seharusnya tidak butuh waktu lama bagi mereka, untuk bisa nyetel di liga yang baru.

Tapi seharusnya kita ingat, kalau Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago Alcantara hanya manusia biasa.

 Dilansir dari Mirror, para pundit sepakbola di Inggris percaya kalau Donny van de Beek, Kai Havertz, dan Thiago Alcantara punya masalah yang  sama. Terutama adalah kurangnya sesi pramusim.

Akibat pandemi virus Corona, kompetisi memang sudah kacau balau di akhir musim lalu. Sempat ditangguhkan, lalu tancap gas menyambung musim 2020/2021.

Tidak ada sesi pramusim seperti yang sudah-sudah. Jadilah, mereka bertiga tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi dengan gaya permainan Liga Inggris.

Jangan itu, beradaptasi dengan tim sendiri juga masih sulit. Waktunya tidak banyak, tapi lonseng sudah dibunyikan untuk bermain.

“Saya hanya punya waktu lima dan enam hari, lalu memainkan pertandingan pertama,” kata Kai Havertz di bulan Oktober lalu.

Kai Havertz seolah dipaksakan untuk bermain. Harganya yang tinggi, membuatnya dibebani ekspektasit tinggi sebagai pemain Chelsea.

Hal buruk terjadi, Havertz mandek di lapangan. Sempat bikin gol, tiba-toba ‘menghilang’’. Sehingga di masa Thomas Tuchel, Havertz diberi waktu sendiri untuk menenangkan mentalnya/

Donny van de Beek juga setali tiga uang. Sempat bikin gol di pertandingan pertamanya, setelahnya lebih banyak di bangku cadangan. Tidka ayal, can de Beek belum mampu menggeser Bruno Fernandes dan Paul Pogba dari skuad utama.

Apalagi, Ole Gunnar Solskjaer seolah tidak mau berjudi. Maka Solskjaer tutup kuping dan tidak mau menanggapi suara-suara fans Manchester United yang meminta van de Beek diberi waktu bermain lebih.

Kini sementara di Klasemen Liga Inggris, buktinya Setan Merah mampu bercokol di peringkat kedua. Maka para fans pun seolah memahami dan hanya bisa van de Beek bersabar.

Thiago Alcantara usianya lebih matang dibanding Donny van de Beek (23 tahun) dan Kai Havertz (21 thn). Thiago sudah berusia 29 tahun dan sudah lebih berpengalaman pernah mengarungi Liga Spanyol dan Bundesliga.

Tapi nyatanya, Thiago butuh waktu juga. Thiago yang biasa lama-lama menguasai bola dan bermain elegan, mau tidak mau menerima kerasnya tekel dan ketatnya tekanan lawan di Liga Inggris.

Apalagi Liverpool juga dihantam badai cedera sehingga punggawa di tengah yakni Jordan Henderson dan Fabinho sampai harus ditarik ke belakang menjadi bek. Thiago pun diara terlalu dini untuk langsung sendirian menjadi otak permainan Liverpool.

Lockdown di inggris juga membuat Donny van de Beek, Kai Havertz dan Thiago Alcantara belum terlalu mengenal kota-kota barunya mereka. Belum bisa main ke rumah rekan-rekan setim untuk lebih saling mengenal dan dapat kisi-kisi.

Maka musim ini, bisa dibilang bukan musim untuk mereka bertiga. Tinggal menanti apakah musim depan sudah terlihat sinarnya atau kembali ‘menyalahkan waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *