Ivan Gazidis, AC Milan, dan Komitmen Berantas Rasialisme dalam Sepak Bola Italia

FlyGoal.com – Rasisme di Italia bagai mendarah daging dan bahkan telah menjadi nilai-nilai yang lumrah dalam masyarakat negara tersebut. Tidak sedikit pemain-pemain kulit hitam di Serie A yang merasakan tindakan rasis yang dilontarkan oleh suporter-suporter klub.

Salah satu contoh yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah kasus pemain AC Monza, Mario Balotelli kala masih menjadi pemain Brescia Calcio di musim 2019-2020 dan bertanding melawan Hellas Verona pada bulan November 2019 silam.

Pada pertandingan Hellas Verona melawan Brescia Calcio tersebut, Mario Balotelli mendengar ucapan bersifat rasis yang ditujukan kepada dirinya menendang bola ke tribun dan mengancam akan keluar dari lapangan pertandingan. Pertandingan tersebut akhirnya dihentikan selama beberapa menit untuk meredakan ketegangan yang terjadi.

Dunia sepak bola di berbagai negara di dunia memang telah memberikan komitmen untuk menberantas tindakan rasialisme untuk terciptanya industri sepak bola yang majemuk dan merangkul semua kalangan, tetapi tidak jarang bahwa masih ada beberapa negara yang masih harus berusaha untuk menanggulangi tindakan yang tidak terpuji tersebut, salah satunya adalah Italia.

CEO AC Milan, Ivan Gazidis, dikutip dari BBC, telah memberikan pendapatnya mengenai masalah rasialisme yang masih menjadi salah isu yang dihadapi sepak bola Italia. Menurutnya, kurangnya pengembangan stadion tempat mereka menonton menjadi salah satu alasan mengapa rasialisme masih tumbuh subur di Italia.

Kepada BBC Sport, Gazidis yang sebelumnya pernah menangani Arsenal mengatakan, “Kita melihat lingkungan yang kekurangan rasa hormat ketika lingkungan tersebut terbangun, kurang lebih sama dengan apa yang kita lihat dengan yang terjadi di Inggris sebelum pembangunan stadion.”

“Stadion-stadion baru bisa menciptakan atmosfir yang membuat orang-orang yang menonton di dalamnya menjadi merasa aman.”

“Stadion-stadion ini memiliki teknologi yang maju, mereka lebih bersifat inklusif, Anda akan melihat keberagaman orang-orang di stadion, para perempuan datang, anak-anak datang, orang-orang yang berasal dari ras, warna kulit, latar belakang, dan orientasi seksual akan merasa lebih diterima di dalam stadion-stadion.”

“Itulah yang kami harus wujudkan di Italia ini.”

“Saya rasa Inggris telah mengurusi persoalan ini dengan lebih dalam dan waktu yang lebih lama, tetapi bukan berarti mereka sudah berada di akhir perjalanan.”

Pemberitaan asal Inggris tersebut juga menjelaskan bahwa Rossoneri sendiri sudah meluncurkan program bernama Manifesto for Equity, Diversity and Inclusion (Manifesto untuk Kesetaraan, Keberagaman, dan Inklusivitas) untuk membantu memberantas segala bentuk diskriminasi dalam dunia sepak bola.

Gazidis melanjutkan, “Mengelak mengakui bahwa kita memiliki masalah dan menyembunyikannya tidak akan membantu. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mengakui dan kemudian kita akan ambil tindakan.”

“Ini adalah proses, tidak ada akhir dari proses yang tengah kita jalani saat ini. Perjalanan yang telah dijalani dalam dunia sepak bola sepanjang 20 atau 30 tahun terakhir merupakan perjalanan yang signifikan, tetapi perjalanan kita masih jauh.”

Selain itu, Milan juga memberikan komitmennya terhadap isu rasialisme dengan penjadi salah satu pengagas surat terbuka bersama 20 klub Serie A lainnya yang ingin memberantas rasialisme yang menjadi masalah serius dalam sepak bola Italia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *